Pages

Prinsip Pemimpin

Pemimpin itu di depan bila ia memimpin komando dan menjadi teladan. Pemimpin juga di tengah ketika ia mendengarkan suara hati masyarakatnya dan ikut merasakan apa yang dialami masyarakatnya. Terkadang pemimpin berada di belakang ketika masyarakat perlu dukungan dan dorongan. Berarti pemimipin adalah makhluk serba bisa. Untuk itu diperlukan prinsip-prinsip yang menjadi dasar karakter seorang pemimpin agar mampu mengemban kepemimpinan ke arah yang diharapkan semua pihak. Antara lain


a. Prinsip Ibadah
Seorang pemimpin yang pada hakekatnya adalah makhluk ciptaan-Nya, maka sudah seharusnya dalam seluruh amal perbuatannya didasarkan pada tujuan utama ikhlas mencari ridha Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya : "Dan tidak Ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku" (Qs Adz Dzaariyat :56), dan juga pada ayat lain, "Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah saja dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, rekan sejawat, orang musafir yang terlantar dan juga hamba sahaya yang kamu miliki". (Qs An Nisa' : 36 ).

b. Prinsip Amanah
Seorang pemimpin yang mengaku beriman dan Islam, harus menjalankan 2 jenis amanah yang dibebankan kepadanya. Amanah yang pertama berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Yaitu kewajiban untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya dan larangan Rasul-Nya. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan itu, meliputi segala bidang, baik yang bersifat pibadi, maupun umum. Baik yang berhubungan langsung dengan Allah SWT (hablum minallahi) yang mengandung aspek ritual, maupun yang berhubungan dengan sesama manusia (hablum minannasi) yang mengandung aspek sosial.
Amanah yang kedua adalah yang berasal dari manusia. Amanah ini meliputi berbagai hal yang menyangkut hajat hidup manusia sehari-hari, baik dalam urusan pribadi, maupun urusan bersama. Setiap individu yang mendapat amanah dari manusia untuk pemimpin mendapat beban amanah untuk mengurus, mengatur, memelihara dan melaksanakan kewajiban itu secara baik dan benar. Sebagaimana firman Allah SWT, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui (akibatnya)" (Qs. Al-Anfaal : 27-28), dan juga ayat-ayat lain yang bermakna sama.

c. Prinspip Ilmu / Profesionalitas
Prinsip ilmu maksudnya adalah semua pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana firman Allah : "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya "(Qs Al Israa': 36). Selain itu masih banyak ayat-ayat dalam Al Qu'an yang menggambar pentingnya ilmu, termasuk ayat yang pertama kali turun memerintahkan untuk ikra' (membaca).
Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist yang sudah sangat sering kita dengar mengatakan bahwa, "Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas untuk mengembannya), maka tunggulah saat kehancurannya" (H. R. Bukhari bab Ilmu). Dan juga Imam Syafi'i yang merupakan salah satu ulama besar Islam mengatakan bahwa "barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan dua-duanya maka hendaklah dengan ilmu." (Al-Majmu' Imam An-Nawawi).

d. Prinsip Keadilan
Allah SWT adalah yang Maha Adil dan sangat mencintai keadilan, hal itu dapat kita lihat dengan banyaknya perintah untuk berbuat adil di dalam Al Qur;an. Beberapa diantaranya adalah : "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."(An Nisaa :135), dan juga "Katakanlah : Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. Dan : Luruskanlah muka mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta'atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan "(Al A'raaf : 29).

e. Prinsip Etos Kerja / Kedisiplinan
Islam adalah agama yang mengajarkan kerja keras dan usaha disamping berdoa untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Islam tidak pernah mengajarkan untuk hanya tinggal berharap dan berpangku tangan. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT bahwa, "yang demikian itu karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Qs Al Anfaal : 53).
Pada ayat :"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung" (QS Al Jumu'ah : 10), Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk segera bekerja setelah beribadah dan tidak hanya pasrah dengan alasan zuhud atau tawakkal. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman :" Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu dari negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi… "(Qs Al Qashash : 77)

f. Prinsip Akhlaqul Qarimah
Sebagai seorang yang beriman sudah sepantasnya kita mencontoh Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan terutama menyangkut masalah akhlak. Semua orang yang mengenal beliau, baik kawan maupun lawan pastilah akan memuji kemuliaan akhlak dan kepribadian beliau. Bahkan 'Aisyah istri beliau ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, mengatakan bahwa seperti Al Qur'an. Allah SWT sendiri dalam salah satu ayat memuji beliau dengan mengatakan : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Qs Al Qalam : 4).
Allah SWT juga telah menyampaikan kepada manusia apabila ingin memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat agar mencontoh dan meneladani akhlak beliau, sebagaimana tersirat dalam ayat berikut, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu dan bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah " (QS Al Ahzaab : 21).

Selengkapnya...

Belajar dari Pisang

Pohon pisang merupakan salah satu jenis pohon buah-buahan yang tentunya sangat kita kenal, sebab di sekitar kita saja, pohon yang satu ini tumbuh bebas dan terawat di setiap sudut pekarangan. Buahnya pun sangat lezat rasanya, daunnya merupakan lembaran serba guna, serta bagian-bagian lain yang tidak jauh hebatnya dalam setiap pemanfaatan.


Sebenarnya bukan itu yang hendak kita perhatikan. Bila kita memandang sebatang pohon pisang dengan pandangan Iqro’ seorang kader Islam, maka akan takjub dan tercengang-cengan kita dibuatnya. Mengapa demikian ...?, sebab di dalam sebatang pohon pisang terdapat makna besar yang terkandung bila kita memang benar-benar memikirkannya.
Sebagai contoh nyata adalah, sebatang pohon pisang merupakan salah satu jenis pohon yang berbatang lunak, batabgnya terdiri dari susunan pelepah-pelepah yang tertata rapi membentuk batangan bundar yang indah dan kokoh, namun jangan dikira pohon pisang lunak ini merupakan pohon yang mudah layu dan mati, sungguh dugaan yang salah besar, justru inilah salah satu pohon pejuang yang sangat luar biasa. Mengapa saya sebut pejuang luar biasa, karena batang pisang yang lunak itu bila dipotong maka dalam hitungan jam saja sudah muncul tunas baru yang berguna sebagai penyambung hidup. Dan kejadian ini tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun sampai ia benar-benar berhasil hidup dan berhasil menghasilkan setandan buah pisang, setelah itu baru ia akan layu dan mati.
Nah dari contoh kecil tersebut dapat kita ambil sebuah pelajaran penting yaitu tidak akan pernah mundur dan berhenti seelum dapat memberikan manfaat untuk orang lain , apakah selama ini kita sudah cukup bermanfaat untuk orang lain atau justru keberadaan kita malah menbuat orang susah dan serba tidak nyaman. Pelajaran dari pohon pisang ini perlu dimaknai dan diamalkan, karena hal itu merupakan pelajaran langsung dari Allah untuk hambaNya, tinggal kita, mau beriqro’ atau tidak terhadap ayat-ayat alam tersebut.
Salah satu ulama kondang Indonesia pernah mengatakan bahwa, “Manusia yang paling beruntung adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat untuk orang lain, dan kesuksesan seseorang sebagai hamba [un dapat diukur dengan seberapa banya dia bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Bila dia berada ditengah-tengah masyarakat maka keberadaannya sangat dibutuhkan, dan bila dia pergi maka kepergiannya sangat disayangkan, seperti ada unsur yang hilang dari sebuah ekosistem. Apakah hal itu sudah kita miliki, kalau sedah ... Betapa bahagianya kita, namun kalau belum maka sudah saatnya kita mempelajarinya dan memilikinya untuk dijadikan dalam daftar sifat-sifat mulia yang harus kita miliki, semoga hal ini dapat kita miliki dengan sempurna. Aaamiiin......

Selengkapnya...

Mitos Tentang Madu

Siapa yang tidak kenal madu ? ia adalah sejenis minuman yang berasal dari lebah. Sejak dulu madu sudah begitu akrab di sekitar kita, baik untuk konsumsi biasa atau pun sebagai obat herbal. Banyak hal yang kita dengar tentang madu, dan yang paling sering terdengar adalah tentang kualitas keasliannya. Banyak sekali kabar berita dan mungkin bisa kita katakan mitos-mitos masyarakat yang beredar yang menjelaskan tentang bagaimana memilih dan memastiakan keaslian madu. Beberapa saat lalu saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang itu. Artikel itu sangat bagus saya nilai, karena mencantumkan hasil penelitian dan buku rujukannya. Nah hasil bacaan itu akan coba saya bagikan buat netter sekalian, jika benar semoga menjadi ilmu bagi kita, dan jika tidak silahkan ditanggapi, agar dapat diluruskan nantinya.
Ada beberapa mitos (kalau bisa dikatakan begitu) dan juga anggapan kebanyakan orang yang akan coba dikaji dalam artikel tersebut, antara lain;


1. Semut tidak suka madu
Ada beberapa anggapan bahwa semut tidak suka madu, ternyata anggapan itu salah dan itu hanya propaganda dari segelintir orang. Semut sangat suka sekali madu. B. Sarwono, pengarang buku “Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Lebah Madu” terbitan PT. Agromedia Pustaka, Jakarta. Di halaman 80 mengatakan bahwa : “kehadiran semut di sarang lebah madu dapat merugikan produksi, karena serangga itu memakan madu, tempayak, lilin dan sisa-sisa pakan lebah”. Di buku “LEBAH MADU; Cara Berternak dan Pemanfaatannya” hal 57 keluaran Pusat Perlebahan APIARI Pramuka, Penerbit Penebar Swadaya, Cimanggis, Depok, dikatakan: “semut secara alami terdapat dimana-mana, jika kehadirannya sedikit semut tidak banyak mengganggu. Sebaliknya bila jumlahnya banyak, semut akan menjadi hama bagi lebah. Pada serangan yang berat, lebah akan hijrah”. Dari keterangan dua buku tersebut nyatalah bagi kita bahwa semut menyukai madu dan terbantahlah pernyataan yang menyatakan bahwa semut tidak suka madu. Memang sering kita dapati semut tidak mau masuk kedalam botol madu yang terbuka, itu bukan berarti semut tidak suka madu, akan tetapi lebih dikarenakan aroma madu yang keluar dari dalam botol itu yang membuat mereka tertahan, namun lihat bila madu tinggal sedikit atau madu berada di luar botol, maka secara alami semut akan mengerumuni. Kalau ada madu yang tidak disukai semut, justru itu yang harus diwaspadai, kalau-kalau ada bahan kimia berbahaya tercampur dalam madu tersebut.

2. Madu asli tidak membeku di kulkas
Anggapan berikutnya adalah madu asli tidak membeku (mengental) di dalam kulkas. Ini juga perlu dipertanyakan kebenarannya, karena madu adalah zat cair yang kental yang mengandung 17 – 25 % air, dan tentunya semua air murni akan membeku pada suhu nol derajat. Namun bila ada madu tidak membeku berada dalam kulkas minimal tujuh hari, maka madu tersebut mengandung zat kimia anti beku, waspadalah.
Ahmed Lathiff MD Firdaus dalam buku “Madu Lebah Penawar Penyakit Zahir dan Batin”, penerbit Darul Nu’man, Kuala Lumpur. Di halaman 39 mengatakan bahwa “Madu akan menjadi beku (mengkristal) apabila kandungan glukosanya berlebihan. Kemudian di buku “Mengenal dan Memanfaatkan Khasiat Madu Alami” , penerbit Pionir Jaya, Bandung. J. Rio. Purbaya mengatakan di halaman 152 bahwa “Jangan memasukkan ke dalam kulkas, karena selain membuatnya menjadi lembab juga bisa menimbulkan penggumpalan (mengkristal).

3. Kuning telur akan masak bila dicampur madu
Banyak sekali orang yang masih beranggapan bahwa madu asli itu apabila dicampur dengan kuning telur maka kuning telur akan masak (menggumpal). Cara ini adalah cara yang keliru, karena madu palsu pun bila dicampur dengan kuning telur, kuning telurnya juga akan menjadi masak, bahkan lebih masak dari madu asli. Kalau ini dijadikan acuan, maka madu asli akan dikatakan palsu dan madu palsu akan dikatakan asli. Keterangan mengenai hal ini bisa dibaca di buku “Lebah Madu Penawar Penyakit Zahir dan Batin” karangan Ahmed Lathiff MD Firdaus, terbitan Darul Nu’man, Kuala Lumpur, di halaman 38.

4. Tidak tembus pada kertas koran
Ada juga orang yang mengatakan, apabila madu asli ditetes di kertas koran tidak akan tembus, pendapat ini juga kurang tepat. Karena madu palsu yang dibuat yang dibuat agak kental dengan kadar air di bawah 17% juga tidak tembus di atas kertas koran. Madu asli dari Sumatra dan Riau yang memiliki kadar air 22% sampai 26% tentu akan meresap di atas koran. Nah kalau ini dijadikan acauan untuk menetukan keaslian madu, maka yang asli akan jadi palsu dan yang palsu akan jadi asli. Jadi jelaslah bahwa tembus dan tidaknya diatas koran tidak menjadi acuan untuk menentukan asli dan tidaknya madu. Keterangan mengenai ini dapat anda temukan di buku “Lebah Madu Penawar Penyakit Zahir dan Batin” karangan Ahmed Lathiff MD Firdaus, terbitan Darul Nu’man, Kuala Lumpur, di halaman 37.

Oleh karenanya, belilah madu dari orang yang benar-benar anda percaya dan bila beli di apotik atau toko, carilah yang ada garansi keasliannya. Terima kasih, semoga barokah dan bermanfaat.

Selengkapnya...


Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni
ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam


Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya
Selengkapnya...

Kalteng Harati

Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu meluncurkan sebuah program dalam bidang pendidikan dengan sebutan "Kalteng Harati", dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna "Kalteng Cerdas dan Pandai". Saya pribadi jadi penasaran ingin mengetahui banyak hal tentang istilah tersebut, dan apa saja sebenarnya isinya. Sambil berharap dengan segala keyakinan akan terlaksananya program hebat tersebut. Mulailah pengembaraan saya untuk mencari informasi tersebut dengan mencoba mencari beberapa referensi, sekali pun pada akhirnya masih tetap kurang.


Awalnya saya coba tanya dengan paman google, kata paman google ada beberapa sumber, antara lain Jardiknas ada sedikit kutipan yang mengatakan "Kalteng Harati merupakan program pendidikan dari dari Pemerintah Provinsi Kalteng yang menitik-beratkan pada : kesejahteraan guru, pelatihan guru, beasiswa untuk siswa berprestasi, penyediaan dan pendistribusian buku, kualitas belajar mengajar". Di jurnal toddopuli sedikit dijelaskan bahwa Harati, dalam bahasa Dayak Ngaju atau Katingan lebih menunjukkan kepada suatu sikap, perilaku yang tanggap keadaan. Misalnya, ketika seorang anak melihat ibunya sibuk bekerja, maka ia secara berprakarsa membantu ibunya, baik dengan turut mengerjakan apa yang sedang dilakukan oleh sang ibu, maupun dengan menemani adiknya bermain-main agar tidak rewel dan menganggu ibu. Bisa juga si anak membuatkan ibunya teh atau memasak nasi. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kata ‘’harati’’ mengandung unsur-unsur self awareness (kesadaran diri), empati dan asertif,tapi tidak atau sedikit menyentuh masalah IQ. Sikap atau perbuatan demikian, dilakukan tanpa ada yang menyuruh. Tapi lahir dari suatu kecerdasan dan kepekaan perasaan. Hampir secara instingtif. Artinya tidak banyak hubungannya dengan masalah IQ (tingkat intelegensia). Sehingga bisa terjadi anak harati tingkat IQ-nya pas-pasan. Pada intinya, Kalteng Harati merupakan salah satu program pendidikan dengan tujuan agar Kalimantan Tengah menjadi lebih cerdas dan pandai.
Nah untuk sementara itu, kalau pembaca merasa ada yang kurang silahkan ditambahkan ...
Selengkapnya...

10 Penemuan Muslim

Bismillah …

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia”. [QS. Al-Baqarah (2): 117]

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. [QS. al-Hijr (15): 86]

Sesungguhnya manusia hanyalah ‘meramu’ alam yang merupakan ciptaan Allah subhanahu wata’ala.
Berikut tercatat 10 penemuan muslim dalam peradaban manusia.
Disadur dari sumber salinya http://english.pravda.ru/science/tech/85999-Muslims-0


1. Kopi

Cerita berawal dari seorang Arab bernama Khalid yang menggembala kambing-kambingnya di wilayah bernama Kaffa, Ethiopia Selatan. Ia mencatat bahwa hewan-hewan peliharannya mejadi lebih lincah setelah memakan biji-bijian tertentu. Selanjutnya dia merebus biji-bijian tersebut menjadi sebuah kopi yang pertama. Untuk pertama kalinya tercatat minuman berbentuk serbuk yang diekspor dari Ethiopia ke Yaman, dimana para Sufi biasa meminumnya agar bisa terjaga sepanjang malam untuk beribadah pada waktu-waktu tertentu. Pada akhir abad ke-15, bubuk kopi telah mencapai Mekah dan Turki, dan selanjutnya merintis jalan hingga ke Venica pada tahun 1645. Kopi dibawa ke Inggris pada tahun 1652 oleh seorang berkebangsaan Turki bernama Pasqua Rosee [see detail more] yang pertama kali membuka kedai kopi di Lombard Street di kota London. Pengucapan qahwa (kopi dalam bahasa Arab) akhirnya menjadi kahve (dalam bahasa Turki), selanjutnya menjadi caffé (dalam bahasa Italia) dan akhirnya menjadi coffee (dalam bahasa Inggris).

2. Catur

Bentuk formasi permainan catur telah lama dimainkan oleh bangsa India kuno, tetapi kita ketahui bahwa permainan ini sendiri telah dikembangkan hingga menjadi formasi sekarang ini di Persia. Dari tempat inilah permainan ini menyebar ke arah barat hingga ke Eropa - yang pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Moor (Muslim) di Spanyol pada sekitar abad ke-10 - dan menyebar ke timur hingga ke Jepang. Perkataan ‘rook‘ (benteng dalam permainan) catur sendiri berasal dari bahasa Persia ‘rukh‘, yang berarti kereta perang [chariot].

3. Parasut

Ribuan tahun sebelum masa Wright bersaudara, seorang penyair, astronomer, musisi dan teknisi muslim bernama Abbas ibn Firnas telah membuat beberapa percobaan untuk membuat mesin terbang. Pada tahun 852, dia melompat dari menara Masjid Agung di Cordoba dengan menggunakan mantel/jubah longgar yang dikeraskan dengan kayu penopang. Dia berharap dapat meluncur seperti burung. Tapi ternyata tidak. Tetapi jubah yang dia pakai memperlambat dia jatuh, yang menjadi ide pertama adanya parasut, sehingga dia hanay sedikit terluka. Pada tahun 875, dalam usia 70 tahun, dengan menggunakan bulu-bulu elang dan sutera yang sudah disempurnakan, dia mencoba lagi, melompat dari sebuah gunung. Dia berhasil terbang pada ketinggian dan bertahan di udara selama sekitar 10 menit tetapi mengalami kecelakaan sewaktu mendarat, hal ini disebabkan dia tidak melengkapi peralatannya dengan ekor sehingga dapat berhenti ketika mendarat. Baghdad International Airport dan lubang pada bulan menggunakan nama akhirnya.

4. Sampo

Bersuci dan mandi merupakan bagian kelengkapan ibadah Muslim, yang mendasari keinginan mereka membuat ramuan sabun yang masih kita gunakan hingga hari ini. Bangsa Mesir kuno telah memiliki sejenis sabun, yang digunakan oleh bangsa Romawi yang menggunakannya lebih sebagai minyak rambut. Berbeda dengan bangsa Arab yang telah mencampur minyak nabati dengan sodium hydroxide dan wangi-wangian seperti minyak thyme (semacam tumbuhan untuk pengharum makanan). Salah satu karakteristik penyerangan dalam perang salib, terhadap lubang hidung ksatria Arab, yang tidak mereka bersihkan. Sampo diperkenalkan ke Inggris oleh seorang Muslim dengan membuka Mahomed’s Indian Vapour Baths di pinggir laut Brighton pada tahun 1759 dan diangkat sebagai Shampooing Surgeon untuk King George IV dan King William IV.

5. Baju Perang Baja

Quilting merupakan suatu metode menjahit atau mengikat dua lapisan kain dengan selapis sejenis nahan penyekat (isolosi) diantara keduanya. Belum terlalu jelas apakah ini pertama kali ditemukan sendiri oleh kaum Muslim atau diadopsi kaum Muslim dari India atau China. Tetapi yang pasmti bahwa ini datang ke wilayah barat melalui perang salib. Mereka melihat ini digunakan oleh ksatria Muslim, yang memakai baju jerami yang dilapisi dengan kain kampas/terpal untuk menggantikan baju baja. Sebagai bentuk perlindingan diri, ini membuktikan dapat memberikan pelrindungan yang efektif dibandingkan baju baja pasukan salib dan merupakan bentuk penyekatan (isolasi) yang efektif - dan ini menjadi industri rumahan pada musim dingin seperti di Inggris dan Belanda.

6. Ilmu Bedah

Ada banyak peralatan bedah modern mempunyai desain yang persis sama dengan peralatan yang digunakan oleh ahli bedah Muslim pada abad ke-10 yang bernama al-Zahrawi. Peralatan tersebut seperti pisau bedah, pemotong (gergaji) tulang, gunting tang, gunting halus untuk bedah mata dan ada sekitar 200 peralatan bedah yang telah al-Zahrawi temukan yang diakui oleh ilmu bedah modern. Al-Zahrawi juga yang menemukan sejenis tali/senar khusus (dari usus hewan) yang digunakan untuk menjahit jahitan dalam untuk operasi bedah yang akan ‘menyatu’ secara alami (al-Zahrawi menemukan ini ketika seekor monyet menelan tali senar kecapinya) dan ini juga diterapkan pada pembuatan kapsul obat. Pada abad ke-13, seorang dokter Muslim lainnya bernama Ibn Nafis telah menggambarkan dengan jelas proses sirkulasi darah, 300 tahun sebelum William Harvey menemukan ini [detail]. Dokter-dokter Muslim juga yang menemukan metode pembiusan dengan menggunakan campuran opium dan alkohol dan mengembangkan sejenis jarum berongga untuk membuang katarak pada mata, suatu teknik yang masih digunakan hingga hari ini.

7. Sup

Ali ibn Nafi, terkenal dengan sebutan Ziryab (Burang Hitam), berasal dari Iraq datang ke Cordoba pada abad ke-9 dan memperkenalkan konsep three-course meal - soup, berupa ikan atau daging, yang dilanjutkan dengan buah-buahan dan kacang-kacangan. Dia juga yang memperkenalkan gelas kristal.

8. Pembayaran dengan Cek

Cek modern sekarang berasal dari istilah Arab ‘saqq‘, suatu janji tertulis untuk membayar sejumlah barang ketika barang tersebut telah dikirim, untuk menghindari membawa sejumlah uang dalam jumlah besar ketika melintasi daerah yang berbahaya. Pada abad ke-9, para pengusaha Muslim dapat menguangkan cek mereka di China yang telah disetujui oleh bank mereka di Baghdad.

9. Roket dan Terpedo

Meskipun orang-orang China yang menemukan bubuk mesiu, dan menggunakannya untuk kembang api mereka, tetapi bangsa Arab yang mengembangkan metode pemurniannya dengan menggunakan potassium nitrate untuk keperluan militer. Perangkat bom buatan ksatria Muslim ini menakutkan bagi ksatria Salib. Menjelang abad ke-15 kaum Muslim telah berhasil menemukan roket, yang mereka sebut “self-moving and combusting egg” [telur mudah terbakar dan dapat bergerak sendiri], dan juga terpedo - sebuah bom berbentuk buah pear yang dapat bergerak sendiri dengan sejenis tombak pada bagian depan yang mengarahkan ke kapal-kapal musuh dan kemudian meledak.

10. Kincir Angin

Kincir angin ditemukan pada tahun 634 untuk kalifah bangsa Persia dan dimanfaatkan untuk menggiling jagung dan mengalirkan air untuk irigasi. Sebagian besar gurun di wilayah Arab, ketika musim kering datang, sumber energi yang tersedia hanya udara yang bertiup stabil dan searah selama berbulan-bulan. Penggilingan dilengkapi dengan enam atau dua belas layar yang diselimuti kain atau daun palem. Ini terjadi 500 tahun sebelum kincir angin pertama terlihat di benua Eropa. [infokito]

Wallahua’lam

Selengkapnya...

Tiga Ciri Orang Ikhlas

Oleh: Mochamad Bugi
From dakwatuna.com

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”


Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.


Selengkapnya...

Ruh amal

Setiap hamba memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Ada yang rajin shaum senin-kamis- nya, ada yang khusyu dalam sholatnya, ada yang kuat dalam wiridnya, ada yang jujur dalam dagangnya, dan ada pula yang tekun dalam mempelajari ilmu. Tekun dan rajin beribadahnya seorang hamba adalah tanda tingkat ma’rifat kepada-Nya. Banyaknya amal ibadah seseorang juga merupakan tanda sifat ihsan dalam dirinya.
Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Alloh ditunjukan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Sedekah dengan mewakafkan seluruh harta yang dimiliki, kalau sekedar ingin disebut dermawan, sama sekali tidak bernilai apapun. Bekerja siang malam, bersimbah peluh, berkuah keringat, demi menafkahi anak dan istri, kalau tidak ikhlas, maka tidak ada nilainya di sisi Alloh.


Ceramah agama dengan memberikan nasihat, mengemukakan dalil-dalil, kalau sekedar memamerkan kemampuan berbicara, kemampuan bahasa arab, dan memamerkan banyaknya hafalan Qur’an dan hadits, maka walau sampai berbusa sekalipun, tidak ada nilainya di sisi Alloh.
Sholat sunah berpuluh rakaat setiap hari, kalau sekedar ingin disebut sebagai ahli ibadah, ingin dipuji oleh mertua, pimpinan, maka sholatnya itu hanya sebagai gerakan-gerakan yang tiada arti dan tidak bernilai di hadapan Alloh.
Subhanalloh, sungguh beruntung bagi siapa pun yang amalnya selamat dari tujuan lain selain Alloh, yaitu seorang hamba yang amal-amalnya menjauhi motif-motif duniawi karena diniatkan ikhlas karena Alloh semata. Inilah derajat mukhlisin yaitu derajat hamba yang amal ibadahnya tegak dan kokoh dengan ikatan iman dan dilaksanakan dengan ikhlas. Karena dia menyadari bahwa ikhlas adalah ruh amal yang menunjukkan tegaknya iman.
Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya Al hikam berujar, “ beraneka jenis amal yang nampak itu adalah karena beraneka ragam keadaan yang datangnya dari dalam hati seorang hamba. Beraneka ragam amal yang nampak itu merupakan kerangka yang tegak, sedang ruhnya adalah wujud rahasia ikhlas yang ada di dalamnya.”
Jelaslah bahwa nilai ibadah seseorang hamba yang dihadapan Alloh ditujukan oleh ikhlasnya dalam beramal. Seorang hamba ahli ikhlas akan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupun imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi seorang hamba ahli ikhlas hanya satu, yakni bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Alloh Azza wa Jalla. Dengan kata lain, seorang hamba ahli ikhlas akan mengutamakan pandangan Alloh daripada pandangan manusia.
Berbuat amal ibadah bagi seseorang hamba ahli ikhlas adalah dengan menyembunyikannya dari pandangan manusia sebagaimana dia menyembunyikan keburukan-keburukan nya. Bahkan ikhlasnya seorang hamba ahli ikhlas akan nampak bahwa ia tidak melihat terhadap ikhlas itu sendiri. Sebab jikalau ia menyaksikan keikhlasan terhadap ikhlasnya, berarti ikhlasnya tersebut memerlukan keikhlasan lagi, subhanalloh.
Lawan ikhlas adalah isyrak, artinya bercampur dengan yang lain. Ibarat air, ikhlas adalah air bening yang muncul dari mata air pegunungan yang belum tercampuri walau oleh satu titik noktah pun zat lain yang ada di dalamnya. Ikhlas adalah bersih, bening, tanpa campuran sedikitpun. Suatu pekerjaan yang bersih dari maksud lain, maka pekerjaan itu telah dilakukan dengan ikhlas. Amal ibadah yang dilakukan hanya karena Alloh semata, itulah ikhlas.
Untuk menggapai derajat hamba ahli ikhlas, seseorang harus rela mengorbankan segala kepentingan yang sifatnya pribadi yang secara duniawi sepertinya dibutuhkan seperti harta, jabatan, ketenaran, dan lain sebagainya. Karenanya, sikap jujur, tulus, dan lurus, tidak dapat dipisahkan dari ikhlas. Jujur dalam berkata, tulus dalam beramal, lurus dalam berniat adalah buah hati yang ikhlas.
Berkata dusta, lain di bibir lain di hati adalah tanda kemunafikan. Mulutnya berkata, “semua ini saya lakukan karena Alloh…” padahal dalam hatinya bersarang keinginan untuk dipuji, keinginan untuk terkenal, keinginan untuk mendapat penghargaan, dan lain sebagainya. Orang yang berkata lain di bibir lain di hati, inilah golongan pendusta, naudzubillah.
Adapun bagi orang-orang yang telah sampai pada maqam ikhlas, maka keikhlasan ini akan membuat pribadinya lebih tenang, lebih kuat, dan lebih mantap. Keikhlasan menjadi lebih berani, kokoh, tegar, penuh dengan cahaya keindahan.
Sedangkan keikhlasan dalam beramal akan menjadikan amal tersebut terasa nikmat dan mudah, yang pada akhirnya membuat jiwa menjadi merdeka dan tidak diperbudak oleh apapun selain oleh Alloh. Tak dapat dipungkiri, hal ini memang karena ruhnya amal adalah ikhlas. Tanpa keikhlasan akan berat dan sia-sialah setiap amal. Oleh karenanya, keikhlasan adalah satu-satunya jalan pintas menuju ridha dan kasih sayang-Nya.
Rasululloh pernah berkisah, “manusia yangmula-mula akan ditanya di hari kiamat adalah tiga orang; pertama adalah orang yang diberi Alloh ilmu pengetahuan. Pada waktu itu Alloh Azza wa Jalla bertanya,”Apakah yang sudah kamu perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui itu?”
Ia menjawab, “Ya Robbi, dengan ilmu hamba itu, hamba bangun di tengah malam (untuk sholat malam), lalu hamba berjaga di tepi siang (untuk mengajarkan ilmu kepada orang yang mendustakannya) .”
Alloh berfirman, “Engkau dusta!”
Malaikat pun berkata, “Engkau dusta!Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau disebut seorang alim.”Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.
Orang kedua adalah seorang laki-laki yang Alloh beri harta kekayaan, maka Alloh bertanya, “Engkau telah kami beri amanah harta, apakah yang sudah engkau perbuat dengan harta itu?”
Ia menjawab, “Ya Robbi, harta benda itu semuanya telah hamba sedekahkan pada tengah malam dan siang hari.”
Alloh berfirman, “Engkau dusta!”
Malaikat pun berkata, “Engkau dusta!” Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan.” Memang yang demikianlah yang dikatakan orang terhadap dirinya.
Orang ketiga adalah laki-laki yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Alloh, maka Alloh bertanya, “Apakah yang telah engkau kerjakan?”
Ia menjawab,”Ya Robbi, Engkau suruh hamba berjihad, maka pergilah ke medan peran, lalu hamba mati terbunuh.”
Alloh pun berkata,”Engkau dusta!”
Dan malaikat pun berkata, “Engkau dusta!Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya dikatakan orang bahwa engkau gagah berani.”Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.
Setelah berkata demikian, “Rasululloh SAW melanjutkan, “Wahai Abu Hurairah, mereka itulah makhluk yang paling pertama merasakan api neraka jahannam di hari kiamat.”
Menjadi jelas kiranya, ternyata bukan perbuatan manusia yang berdusta, tapi tiang tegaknya, yaitu sikap ikhlas dalam amalnya. Bagi seorang hamba ahli ikhlas, apapun yang dilakukannya bebas dari selera rendah, berupa keinginan untuk dihargai, dipuji, dan dihormati. Konsentrasinya seluruh amalnya tertuju hanya kepada Alloh semata.

Wallohu 'alam bi showab


Selengkapnya...